Beranda | Artikel
Allah Memasukkan Manusia ke Surga dan Neraka dengan Keadilan-Nya (Bag. 3)
8 jam lalu

Memasukkan surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻ

Memasukkan surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻ. Tidak ada yang bisa mengintervensi keputusan ini. Namun, Allah ﷻ memberikan ketetapan bahwa siapa saja yang kafir akan masuk neraka, dan siapa saja yang beriman akan masuk surga. Sehingga siapapun yang beriman, meskipun banyak maksiatnya, bisa saja Allah ﷻ masukkan ke surga tanpa azab. Begitupun sebaliknya, seseorang yang banyak melakukan kebaikan, tetapi ia pada akhirnya mati dalam kekafiran, maka tempatnya di neraka.

Kepastian secara umum ini disandarkan kepada firman Allah ﷻ dalam surah Al-Bayyinah,

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ وَٱلْمُشْرِكِينَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ شَرُّ ٱلْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari ahli kitab dan orang-orang yang musyrik itu di neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ خَيْرُ ٱلْبَرِيَّةِ جَزَآؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِىَ رَبَّهُۥ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka adalah surga ‘Adn yang sungai-sungai mengalir di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang yang takut kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Bayyinah: 7-8)

Dan masih banyak ayat yang semisal demikian.

Kasus ahli ibadah yang masuk neraka dan ahli maksiat yang masuk surga

Keadaan seorang ahli ibadah berakhir di neraka sebagaimana ahli maksiat masuk surga adalah sebuah kenyataan yang ditegaskan oleh Nabi ﷺ. Namun, hal ini tidak terjadi semata-mata tanpa alasan. Berikut ini beberapa riwayat yang mengabarkan hal demikian dan beragam sebabnya:

Pertama: Ketika akhir hayat seseorang berkebalikan dengan riwayat hidupnya

فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

“Demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya di antara kamu ada orang yang melakukan perbuatan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta. Akan tetapi, catatan mendahuluinya, sehingga dia akhirnya melakukan perbuatan ahli neraka, ia pun masuk ke neraka. Sesungguhnya di antara kamu ada orang yang melakukan perbuatan ahli neraka sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal sehasta. Akan tetapi, catatan mendahuluinya, akhirnya dia melakukan perbuatan ahli surga, ia pun masuk ke surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apa yang terjadi pada orang ini sangat menunjukkan bahwasanya memasukkan orang ke surga atau neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻ. Hal ini oleh sebagian orang dijadikan sebagai bahan untuk menyerang bahwa Allah ﷻ telah bersikap tidak adil kepada ahli ibadah tersebut. Padahal, justru ini adalah bentuk keadilan Allah ﷻ. Diterangkan oleh para ulama bahwasanya ahli ibadah semacam ini tidak serta-merta masuk ke neraka hanya karena satu perbuatan, melainkan ia menyimpan kemunafikan berupa:

1) Ahli ibadah tersebut beribadah dengan niat yang tidak murni untuk Allah, alias riya. Akan datang keterangan hadis untuk membahas kemungkinan ini pada subpoin keempat.

2) Ahli ibadah tersebut menyimpan maksiat tersembunyi seakan-akan ia tidak takut kepada Allah ﷻ dalam melakukan hal tersebut. Keterangan hadis ini akan dijabarkan pada subpoin kelima.

Kedua: Ahli maksiat masuk surga karena masih ada iman di hatinya

Nabi ﷺ bersabda,

يَخْرُحُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنَ اْلإِيْمَانِ

“Akan keluar dari neraka orang yang di dalam hatinya masih ada iman seberat dzarrah.” (HR. Tirmidzi,  dinilai hasan sahih)

Ketiga: Ahli maksiat masuk surga sebab syafaat dari Nabi ﷺ untuk umatnya

Nabi ﷺ bersabda,

لَيَخْرُجَنَّ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِيْ مِنَ النَّارِ بِشَفَاعَتِيْ يُسَمَّوْنَ الْجَهَنَّمِيُّوْنَ

“Sungguh satu kaum dari umatku akan keluar dari neraka dengan sebab syafaatku, mereka disebut jahannamiyyun (para mantan penghuni neraka Jahanam).” (HR. Tirmidzi, dinilai hasan sahih)

Keempat: Ahli ibadah masuk neraka karena niatnya tidak murni untuk Allah ﷻ

إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ

“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang diberikan di dunia, lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman, ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan sebagai seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan tentang dirimu.’ Kemudian diperintahkan malaikat agar menyeret orang itu di atas mukanya, lalu dilemparkan ke dalam neraka …”

Dalam hadis yang panjang ini, disebutkan ada tiga orang yang pertama kali masuk neraka. Hal yang mengherankan adalah justru yang masuk neraka pertama kali tersebut ialah para ahli ibadah di dunia, yakni:

1) ahli perang membela agama;

2) ahli ilmu yang semangat belajar dan mengajarkan ilmu, khususnya Al-Quran;

3) ahli sedekah yang berkorban bagi umat.

Namun, karena ia tidak melakukannya karena Allah ﷻ, melainkan hanya untuk mendapatkan pujian manusia atau setidaknya tidak menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan, maka ia mendapatkan ganjaran berupa dimasukkan ke dalam neraka. Padahal, secara zahirnya, mereka ini adalah seorang mukmin dan dihukumi di dunia sebagai orang taat.

Kelima: Ahli ibadah yang bermaksiat di kala sepi

Dari Tsauban, dari Nabi ﷺ, ia berkata,

لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun, Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.”

Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka kepada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka, sedangkan kami tidak mengetahuinya.”

قَالَ :  أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

Rasulullah ﷺ bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi, mereka adalah kaum yang jika sedang bersendirian, mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245)

Ini adalah bentuk kemunafikan dan ketidakjujuran dalam amal. Seseorang yang menampakkan keimanan di tengah manusia, tetapi ketika berduaan kepada Allah ﷻ, hilanglah rasa takutnya. Seakan-akan mata manusia lebih ia takuti daripada Allah ﷻ. Berhati-hatilah siapapun di antara kita dari ancaman Rasulullah ﷺ kepada ahli ibadah yang masih gemar bermaksiat di kala sepinya.

Dari kasus yang disebutkan di atas, kita dapat simpulkan bahwasanya kejadian ahli ibadah masuk neraka dan sebaliknya itu didasarkan pada alasan yang jelas. Semua penjelasan tersebut justru menunjukkan keadilan dan kebijaksanaan Allah ﷻ.

Siapa yang boleh dipersaksikan masuk surga atau neraka?

Kita tidak bisa memastikan person siapapun masuk surga dan neraka karena perkara ini adalah perkara gaib. Sehingga, hanya wahyu atau khabar shadiq yang bisa menjadi sumber relevan di sini. Ini adalah pendapat umumnya para ulama.

Sebagian pendapat menyebutkan bahwa ada sumber lain yang menjadikan kita boleh mempersaksikan seseorang masuk surga atau neraka. Keadaan itu adalah jika kaum mukminin memberikan persaksian semisal, sebagaimana yang disebutkan dalam Ash-Shahihain,

مُرَّ بِجِنَازَةٍ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا بِخَيْرٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: وَجَبَتْ، وَمُرَّ بِأُخْرَى، فَأُثْنِيَ عَلَيْهَا بِشَرٍّ، فَقَالَ: وَجَبَتْ. وَفِي رِوَايَةٍ كَرَّرَ: وَجَبَتْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَقَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا وَجَبَتْ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ

“Dilewatkan jenazah lalu mereka memujinya dengan kebaikan, maka Nabi mengatakan, ‘Wajib.’ Kemudian dilewatkan jenazah lainnya, maka ia dicela dengan keburukan, maka Nabi mengatakan, ‘Wajib.’ Umar bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah yang wajib?” Beliau menjawab, ‘Orang ini kalian puji dengan kebaikan, maka wajib baginya surga. Sedangkan orang ini kalian cela dengan keburukan, maka wajib baginya neraka. Kalian adalah para saksi Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda,

تُوشِكُونَ أَنْ تَعْلَمُوا أَهْلَ الْجَنَّةِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، قَالُوا: بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: بِالثَّنَاءِ الْحَسَنِ وَالثَّنَاءِ السَّيِّئِ

“Hampir saja kalian akan mengetahui siapa ahli surga dan ahli neraka. Mereka berkata, “Dengan cara apa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dengan pujian dan celaan.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad, dinilai hasan oleh Syekh Syuaib Al-Arnauth.)

Ada keterangan dari Ibnu Abil Izz rahimahullah yang cukup menghimpun segala permasalahan tentang vonis surga dan neraka bagi seseorang,

إِنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ مِنْ أَهْلِ الْكَبَائِرِ مَنْ يَشَاءُ اللَّهُ إِدْخَالَهُ النَّارَ، ثُمَّ يَخْرُجُ مِنْهَا بِشَفَاعَةِ الشَّافِعِينَ، وَلَكِنَّا نَقِفُ فِي الشَّخْصِ الْمُعَيَّنِ، فَلَا نَشْهَدُ لَهُ بِجَنَّةٍ وَلَا نَارٍ إِلَّا عَنْ عِلْمٍ، لِأَنَّ حَقِيقَتَهُ بَاطِنَةٌ، وَمَا مَاتَ عَلَيْهِ لَا نُحِيطُ بِهِ

“Sungguh sudah pasti akan masuk neraka di antara para pelaku dosa besar, siapa saja yang dikehendaki Allah untuk dimasukkan ke dalam neraka, kemudian ia keluar darinya dengan syafaat para pemberi syafaat. Namun, kita tidak berkomentar berkenaan dengan orang tertentu. Kita tidak bersaksi untuknya dengan surga atau neraka kecuali berdasarkan ilmu, karena hakikat batinnya dan atas perkara apa ia mati, kita tidak mengetahuinya.” (Syarah Aqidah Thahawiyah, 2: 537)

لَكِنْ نَرْجُو لِلْمُحْسِنِ، وَنَخَافُ عَلَى الْمُسِيءِ

“Namun, kita berharap (surga) untuk orang-orang yang berbuat kebajikan; dan kami mengkhawatirkan (neraka) untuk orang yang berbuat keburukan.”

Sebagaimana Allah ﷻ berfirman,

إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya rahmat Allah ﷻ amatlah dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raf: 56)

Kita tidak dituntut untuk menelisik hati manusia

Pembahasan panjang ini seharusnya tidak menjadikan kita sebagai orang yang sibuk mengejar kondisi hati manusia. Justru dengan adanya pembahasan ini, kita hendaknya menjadi orang yang paling merasa tidak tahu dengan keadaan hati manusia. Mungkin inilah di antara hikmah pembahasan ini dimasukkan dalam kitab akidah. Karena keadaan hati manusia adalah perkara gaib, Allah ﷻ semata yang mengetahuinya secara pasti. Adapun kita, hanya melihat refleksinya dalam amal perbuatan dan tidak dapat memastikannya. Ingatlah wasiat Rasulullah ﷺ kepada kita semua,

إِنِّيْ لَمْ أُوْمَرْ ، أَنْ أُنَقِّبَ عَلَى قُلُوْبِ النَّاسِ ، وَلاَ أَشُقَّ بُطُوْنَهُم

“Sesungguhnya aku tidak diperintah untuk menyelidiki (memeriksa) hati mereka dan tidak pula untuk membedah perut mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Janganlah kita menjadi hakim bagi hati orang lain. Janganlah pula kita menjadi jumawa dengan amalan kita. Bisa jadi amalan yang kita tumpuk hari ini, Allah ﷻ sia-siakan karena maksiat kita yang melampaui batas. Inilah model kehidupan seorang ahlussunnah, ia hidup dalam keseimbangan rasa takut dan harap. Takut amalannya tertolak, tetapi penuh harap agar amalannya diterima.

Jawaban syubhat Islam tidak memberi jaminan surga bagi pemeluknya

Hal ini juga menjadi bantahan bagi orang yang membawa syubhat bahwa muslim tidak yakin masuk surga. Syubhat ini dihembuskan oleh banyak orang kafir seperti para penginjil yang mengatakan, “Masuklah agama kami, karena surga telah dijamin bagi orang yang percaya kepada Kristus. Sedangkan Muhammad tidak memberikan jaminan bagi pengikutnya.”

Perkataan ini sangat dusta. Mengapa? Karena Nabi ﷺ, baik melalui hadis maupun Kalamullah, semuanya memberikan kepastian bahwa siapa saja yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, pastilah masuk surga. Bahkan, Nabi diberikan hak syafaat khusus untuk umatnya, suatu keistimewaan yang tidak dimiliki umat yang lain.

Hanya saja, kitalah umatnya yang dituntut untuk memenuhi standar orang beriman yang telah disebutkan. Justru ini adalah konsep yang paling adil dan masuk akal, sebab orang yang berusaha akan mendapatkan apa yang diusahakannya. Sedangkan mereka yang bermaksiat, selagi masih memiliki iman, tetap mendapatkan harapan masuk ke dalam surga Allah ﷻ.

Kesimpulan

Ketentuan ini bagi orang beriman tidak menjadikan ia merasa aman untuk melakukan maksiat. Namun, justru menjadikan diri seorang mukmin terus semangat beramal dan khawatir dengan ancaman neraka dengan berimbang. Keimanan yang dilandasi ilmu yang benar akan mendatangkan ketenangan.

Muthar Al-Warraq rahimahullah berkata,

تنجزوا موعود الله بطاعته ، فإنه قضى أن رحمته قريب من المحسنين

“Raihlah janji Allah dengan menaati-Nya, karena Dia telah menetapkan bahwa rahmat-Nya dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan.” (HR. Ibnu Abi Hatim)

Semoga jawaban para ulama yang diambil dari firman Allah ﷻ ini dapat mencegah masuknya keyakinan-keyakinan yang salah seputar hikmah dan keadilan Allah ﷻ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ

Maha Suci Tuhanmu, Yang Mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 2

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

Syarah Aqidah Thahawiyah, karya Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah, cet. Ar-Risalah.

Tafsir Al-Quran Al-Azhim, karya Ibnu Katsir rahimahullah, via tafsir.app.

Catatan hadis berdasarkan takhrij Syekh Syuaib Al-Arnauth rahimahullah.


Artikel asli: https://muslim.or.id/115852-allah-memasukkan-manusia-ke-surga-dan-neraka-dengan-keadilan-nya-bag-3.html